visi misi -membentuk insani yang berkhlkul karimah -menanamkan keimanan,ketaqwaan dan keislaman pada murid dan santri -berpedoman pada ajaran Al-quran ,hadist,ijma,dan qiyas -mencetak kader-kader yang mampu mentransformasikan ilmu agama dalam berbagai kondisi

Download

Selasa, 04 Oktober 2016

Syariah Properti DidinRosyidin
menerbitkan sebuah catatan.
Mengungkap Konspirasi Zionis Yahudi:
Bahaya Imunisasi dan Vaksin
Imunisasi dan Konspirasi di dalamnya.
Jika kita merunut sejarah vaksin
modern yang dilakukan oleh Flexner
Brothers, kita dapat menemukan bahwa
kegiatan mereka dalam penelitian
tentang vaksinasi pada
manusia didanai
oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller
sendiri adalah salah satu keluarga
Yahudi yang paling berpengaruh di
dunia, dan mereka adalah bagian dari
Zionisme Internasional.
Kenyataannya, mereka adalah pendiri
WHO dan lembaga strategis lainnya :
The UN’s WHO was established by the
Rockefeller family’s foundation in 1948
– the year after the same Rockefeller
cohort established the CIA. Two years
later the Rockefeller Foundation
established the U.S. Government’s
National Science Foundation, the
National Institute of Health (NIH), and
earlier, the nation’s Public Health Service
(PHS).
~ Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO
Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”
Wah hebat sekali ya penguasaan mereka
pada lembaga-lembaga strategis.
Dilihat dari latar belakang WHO, jelas
bahwa vaksinasi modern (atau kita
menyebutnya imunisasi) adalah salah
satu campur tangan (Baca : konspirasi)
Zionisme dengan tujuan untuk
menguasai dan memperbudak seluruh
dunia dalam “New World Order” mereka.
Apa Kata Para Ilmuwan Tentang
Vaksinasi?
“Satu-satunya vaksin yang aman adalah
vaksin yang tidak pernah digunakan.” ~
Dr. James R. Shannon, mantan direktur
Institusi Kesehatan Nasional Amerika
“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi
menimbulkan reaksi radang. Sehingga
vaksin mengubah fungsi pencegahan
sistem imun.”
~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard
University
“Kanker pada dasarnya tidak dikenal
sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai
diperkenalkan. Saya telah menghadapi
200 kasus kanker, dan tak seorang pun
dari mereka yang terkena kanker tidak
mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris
“Ketika vaksin dinyatakan aman,
keamanannya adalah istilah relatif yang
tidak dapat diartikan secara umum”.
~ dr. Harris Coulter, pakar vaksin
internasional
“Kasus polio meningkat secara cepat
sejak vaksin dijalankan. Pada tahun
1957-1958 peningkatan sebesar 50%,
dan tahun 1958-1959 peningkatan
menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang
kongres AS tahun 1962
“Sebelum vaksinasi besar besaran 50
tahun yang lalu, di negara itu (Amerika)
tidak terdapat wabah kanker, penyakit
autoimun, dan kasus autisme.”
~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin
internasional
“Vaksin bertanggung jawab terhadap
peningkatan jumlah anak-anak dan
orang dewasa yang mengalami gangguan
sistem imun dan syarat, hiperaktif,
kelemahan daya ingat, asma, sindrom
keletihan kronis, lupus, artritis
reumatiod, sklerosis multiple, dan
bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang
tidak pernah dikenal dua dekade lalu,
menjadi wabah di seluruh dunia saat
ini.”
~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat
Informasi Vaksin Nasional Amerika
“Tak masuk akal memikirkan bahwa
Anda bisa menyuntikkan nanah ke
dalam tubuh anak kecil dan dengan
proses tertentu akan meningkatkan
kesehatan. Tubuh punya cara
pertahanan tersendiri yang tergantung
pada vitalitas saat itu. Jika dalam
kondisi fit, tubuh akan mampu melawan
semua infeksi, dan jika kondisinya
sedang menurun, tidak akan mampu.
Dan Anda tidak dapat mengubah
kebugaran tubuh menjadi lebih baik
dengan memasukkan racun apapun juga
ke dalamnya.”
~ Dr. William Hay, dalam buku
“Immunisation: The Reality behind the
Myth”
Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan
yang lainnya.
Dan ternyata faktanya di Jerman para
praktisi medis, mulai dokter hingga
perawat, menolak adanya imunisasi
campak. Penolakan itu diterbitkan
dalam “Journal of the American Medical
Association” (20 Februari 1981) yang
berisi sebuah artikel dengan judul
“Rubella Vaccine in Susceptible Hospital
Employees, Poor Physician Participation”.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa
jumlah partisipan terendah dalam
imunisasi campak terjadi di kalangan
praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi
pada para pakar obstetrik, dan kadar
terendah lain terjadi pada para pakar
pediatrik. Kurang lebih 90% pakar
obstetrik dan 66% parak pediatrik
menolak suntikan vaksin rubella.
Lalu mengapa bisa hal itu terjadi? Apa
rahasia di balik vaksin dan imunisasi?
Menurut pencarian saya tentang
imunisasi yang telah saya lakukan sejak
beberapa tahun lalu. Saya berusaha
mengaitkannya dengan metode ilmu
genetik dalam Islam yang sedikit telah
saya pahami.
Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim
ke berbagai tempat di belahan bumi ini
(terutama negara muslim, negara dunia
ketiga, dan negara berkembang), adalah
sebuah proyek untuk mengacaukan sifat
dan watak generasi penerus di negara-
negara tersebut.
Vaksin tersebut dibiakkan di dalam
tubuh manusia yang bahkan kita tidak
ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita
tau bahwa vaksin didapat dari darah
sang penderita penyakit yang telah
berhasil melawan penyakit tersebut. Itu
artinya dalam vaksin tersebut terdapat
DNA sang inang dari tempat virus
dibiakkan tersebut.
Pernahkah anda berpikir apabila DNA
orang asing ini tercampur dengan bayi
yang masih dalam keadaan suci?
DNA adalah berisi cetak biru atau
rangkuman genetik leluhur-leluhur kita
yang akan kita warisi. Termasuk sifat,
watak, dan sejarah penyakitnya. (*Coba
perhatikan juga ketika beberapa waktu
lalu ketika ahmad dani drop kekurangan
darah karena over melakukan bekam
lebih dari satu kali dalam sebulan, waktu
itu rawat inap di rumah sakit sangat
dianjurkan transfusi darah tapi dia
menolak karena dia paham betul tidak
mau keaslian darah nenek moyangnya
yahudi jerman tercampur darah orang
lain yang tidak jelas)
Lalu apa jadinya apabila DNA orang
yang tidak kita tau asal usul dan
wataknya bila tercampur dengan bayi
yang masih suci? Tentunya bayi tersebut
akan mewarisi genetik DNA sang inang
vaksin tersebut.
Pernahkan anda terpikir apabila sang
inang vaksin tersebut dipilih dari orang-
orang yang terbuang, kriminal,
pembunuh, pemerkosa, peminum alkohol,
dan sebagainya?
Dari banyak sumber yang saya dengar
selama ini, penelitian tentang virus
dilakukan kepada para narapidana
untuk menghemat biaya penelitian, atau
malah mungkin hal itu disengaja?
Zat-zat kimia berbahaya dalam vaksin.
Vaksin mengandung substansi berbahaya
yang diperlukan untuk mencegah infeksi
dan meningkatkan performa vaksin.
Seperti merkuri, formaldehyde, dan
aluminium, yang dapat membawa efek
jangka panjang seperti keterbelakangan
mental, autisme, hiperaktif. alzheimer,
kemandulan, dll. Dalam 10 tahun
terakhir, jumlah anak autis meningkat
dari antara 200 – 500 % di setiap
negara bagian di Amerika.
Babi dalam Vaksin.
Penggunaan asam amino binatang babi
dalam vaksin bukanlah berita yang baru.
Bahkan kaum Muslim dan Yahudi banyak
yang menentang hal ini karena babi
memang diharamkan, seperti tertuang
dalam Qur’an ayat berikut :
“Diharamkan bagimu (memakan)
bangkai, darah, daging babi, (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain
Allah, yang tercekik, yang terpukul,
yang jatuh, yang ditanduk, dan
diterkam binatang buas, kecuali yang
sempat kamu menyembelihnya, dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih
untuk berhala. Dan (diharamkan juga)
mengundi nasib dengan anak panah,
(mengundi nasib dengan anak panah
itu) adalah kefasikan. Pada hari ini
orang-orang kafir telah putus asa untuk
(mengalahkan) agamamu, sebab itu
janganlah kamu takut kepada mereka
dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini
telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-
ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
Maka barang siapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.”
Qur’an surah Al-Maidah (5) ayat 3
Bahkan dalam Perjanjian Lama
(Taurat) juga disebutkan :
“ Jangan makan babi . Binatang itu
haram karena walaupun kukunya
terbelah, ia tidak memamah biak.
Dagingnya tidak boleh dimakan dan
bangkainya pun tak boleh disentuh
karena binatang itu haram.”
Imamat 11 : 7-8
Lalu mengapa Allah mengharamkan
Babi?
1. Asam Amino manusia yang hanya
sedikit berbeda dari binatang babi.
Asam amino adalah salah satu penyusun
protein pada makhluk hidup. Jika kita
melihat insulin pada manusia dan babi,
maka hanya akan terpaut satu daripada
babi. Berikut penjelasannya :
Insulin manusia : C256H381N65O76S6
MW=5807,7
Insulin babi : C257H383N65O77S6
MW=5777,6
Penjelasan : hanya 1 asam amino
berbeda
Insulin manusia : C256H381N65O76S6
MW=5807,7
Insulin sapi : C254H377N65O75S6
MW=5733,6
Penjelasan : ada 3 asam amino berbeda
Para produsen vaksin mengatakan
bahwa jika menggunakan asam amino
babi, maka mereka tidak memerlukan
banyak proses penelitian lagi karena
hanya terpaut satu asam amino.
Berbeda dengan sapi yang terpaut 3
asam amino.
“Secara chemisty, DNA manusia dan babi
hanya beda 3 persen. Aplikasi teknologi
transgenetika membuat organ penyusun
tubuh babi akan semakin mirip dengan
manusia.”
~ Dr. Muladno, ahli genetika molekuler di
Fakultas Peternakan IPB
Tapi sayangnya mereka lupa jika asam
aminonya hampir identik berarti sama
saja kita memakan daging manusia
(kanibal), dan telah jelas bahwa kanibal
dapat menyebabkan penyakit-penyakit
genetik yang tidak bisa disembuhkan,
termasuk penyakit syaraf dan lain-lain.
Di China, terdapat sebuah desa yang
gemar memakan daging manusia yang
melintas di desanya, yang kemudian
digunakan untuk sebuah perayaan.
Mereka mengatakan bahwa rasa daging
manusia mirip dengan rasa daging babi.
2. Sifat babi yang buruk dapat menurun
kepada manusia yang memakannya.
Seorang Imam Muslim bersama kawannya
orang barat pernah melakuak test
kepada 3 ekor babi dan 3 ekor ayam,
masing masing adalah 2 jantan dan 1
betina. Dan hasilnya adalah :
Ketika 2 ekor ayam jantan dan 1 ayam
betina dilepas, maka 2 ayam jantan
tersebut bertarung hingga satu tewas/
kalah untuk merebutkan betina. Namun
apa yang terjadi ketika 2 ekor babi
jantan dan 1 ekor babi betina dilepas ?
ternyata babi jantan yang satu
membantu yang lain untuk
melaksanakan hajat seksualnya pada si
betina.
Dan sang Imam berkata, “Inilah ! Daging
babi itu membunuh ‘ghirah’ (rasa
cemburu) orang yang memakannya dan
ini terjadi pada kaum kalian.”
Beberapa penelitian di barat juga
banyak yang menyatakan bahwa
memakan babi dapat mempengaruhi
watak, resiko perselingkuhan, dan
hasrat seksual yang melebihi ambang
batas kewajaran sebagai manusia.
3. Tubuh babi dapat mengubah virus
jinak menjadi ganas.
Babi memiliki berbagai reseptor dalam
tubuhnya yang dapat menjadikan virus
jinak yang masuk ke dalam tubuh babi
kemudian keluar dalam keadaan ganas,
diantaranya reseptor yang sangat
dikenal para ilmuwan adalah reseptor
alfa 2,6 sialic acid untuk mengikat
influenza manusia dan 2,3 sialic acid
untuk mengikat virus influenza unggas.
Virus-virus yang terikat ke dalam
reseptor tersebut kemudian dapat
berubah menjadi ganas. Selain itu
reseptor-reseptor itu juga dapat
mengikat dua jenis virus yang memiliki
sifat yang berbeda, untuk kemudian di
mixing menjadi satu virus ganas yang
memiliki 2 sifat.
4. Banyaknya penyakit dalam tubuh Babi
Kita sudah mengetahui sejak Sekolah
Dasar dahulu bahwa babi mengandung
cacing pita yang sangat berbahaya.
Cacing pita bahkan dapat mengganggu
sistem syaraf dan dapat masuk hingga
otak manusia. Selain cacing pita masih
banyak penyakit lainnya yang
disebabkan oleh babi melalui bakteri,
karena kebiasaannya yang senang
memakan kotoran, bahkan kotorannya
sendiri.
5. Sifat aneh babi lainnya.
“Babi mempunyai sifat kembar antara
binatang buas dan binatang jinak.
Sifatnya yang menyerupai binatang buas
adalah karena ia bertaring dan suka
makan bangkai, sedangkan sifatnya
yang menyerupai binatang jinak ialah
karena ia berceracak dan makan rumput
serta dedaunan lainnya.
Babi memiliki syahwat yang amat kuat,
hingga pada saat ia kawin (bersetubuh),
pejantan bertengger di atas betinanya
yang berjalan bermil-mil jauhnya.
Pejantannya mengejar-ngejar betina
demikian kasar hingga terjadi
perkelahian yang mungkin menewaskan
salah satu atau menewaskan kedua-
duanya.
Satu kali mengandung, babi betina dapat
melahirkan dua puluh ekor anak.
Pejantan mulai kawin bila telah berumur
8 bulan, sedangkan betinanya mulai
melahirkan bila telah mencapai umur 6
bulan. Di beberapa negeri, babi kawin
pada umur 4 bulan, betinanya mulai
bunting setelah dikawini dan akan
melahirkan setelah bunting selama enam
atau tujuh bulan. Babi betina yang telah
mencapai umur 15 tahun tidak dapat
beranak. Jenis binatang ini adalah yang
paling banyak mempunyai keturunan.
Babi jantan merupakan binatang
jantan yang paling tahan lama
bertengger di atas betinanya (kawin).
Yang mengherankan, jika sebelah
matanya dicungkil ia segera mati. Babi
memiliki kesamaan dengan manusia,
yaitu kulitnya tidak dapat dikelupas
kecuali jika dipotong lebih dulu daging
yang berada di bawahnya.”
~ Kamal al-Din Muhammad ibn Musa al-
Damiri, dalam Kitabul-Hayawan Al-
Kubra
Bencana akibat vaksin yang tidak
pernah dipublikasikan.
Di Amerika pada tahun 1991 – 1994
sebanyak 38.787 masalah kesehatan
dilaporkan kepada Vaccine Adverse
Event Reporting System (VAERS) FDA.
Dari jumlah ini 45% terjadi pada hari
vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan
93% dalam waktu 2 mgg setelah
vaksinasi. Kematian biasanya terjadi di
kalangan anak anak usia 1-3 bulan.
Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di
Kansas dan 90% penderita adalah
anak-anak yang telah mendapatkan
vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan
sejenis juga terjadi di Nova Scotia di
mana pertusis telah muncul sekalipun
telah dilakukan vaksinasi universal.
Jerman mewajibkan vaksinasi tahun
1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi
150.000 kasus, di mana pada tahun
yang sama, Norwegia yang tidak
melakukan vaksinasi, kasus dipterinya
hanya sebanyak 50 kasus.
Penularan polio dalam skala besar,
menyerang anak-anak di Nigeria Utara
berpenduduk muslim. Hal itu terjadi
setelah diberikan vaksinasi polio,
sumbangan AS untuk penduduk muslim.
Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh
Pemerintah Federal Nigeria menjadi
bagian dari pelaksanaan rencana
Amerika untuk menghabiskan orang-
orang Muslim dengan menggunakan
vaksin.
Tahun 1989-1991 vaksin campak ”high
titre” buatan Yugoslavia Edmonton-
Zagreb diuji coba pada 1500 anak-anak
miskin keturunan orang hitam dan latin,
di kota Los Angeles, Meksiko, Haiti dan
Afrika. Vaksin tersebut sangat
direkomendasikan oleh WHO. Program
dihentikan setelah di dapati banyak
anak-anak meninggal dunia dalam
jumlah yang besar.
Vaksin campak menyebabkan penindasan
terhadap sistem kekebalan tubuh anak-
anak dalam waktu panjang selama 6
bulan sampai 3 tahun. Akibatnya anak-
anak yang diberi vaksin mengalami
penurunan kekebalan tubuh dan
meninggal dunia dalam jumlah besar
dari penyakit-penyakit lainnya WHO
kemudian menarik vaksin-vaksin
tersebut dari pasar di tahun 1992.
Setiap program vaksin dari WHO di
laksanakan di Afrika dan Negara-
negara dunia ketiga lainnya, hampir
selalu terdapat penjangkitan penyakit-
penyakit berbahaya di lokasi program
vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab
Aids di perkenalkan lewat program WHO
melalui komunitas homoseksual melalui
vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika
tengah melalui vaksin cacar.
Desember 2002, Menteri Kesehatan
Amerika, Tommy G. Thompson
menyatakan, tidak merencanakan
memberi suntikan vaksin cacar. Dia juga
merekomendasikan kepada anggota
kabinet lainnya untuk tidak meminta
pelaksaanaan vaksin itu. Sejak vaksinasi
massal diterapkan pada jutaan bayi,
banyak dilaporkan berbagai gangguan
serius pada otak, jantung, sistem
metabolisme, dan gangguan lain mulai
mengisi halaman-halaman jurnal
kesehatan.
Kenyataannya vaksin untuk janin telah
digunakan untuk memasukan
encephalomyelitis, dengan indikasi
terjadi pembengkakan otak dan
pendarahan di dalam. Bart Classen,
seorang dokter dari Maryland,
menerbitkan data yang memperlihatkan
bahwa tingkat penyakit diabetes
berkembang secara signifikan di
Selandia Baru, setelah vaksin hepatitis B
diberikan secara massal di kalangan
anak-anak.
Melaporkan bahwa, vaksin meningococcal
merupakan ”Bom waktu bagi kesehatan
penerima vaksin.”
Anak-anak di Amerika Serikat
mendapatkan vaksin yang berpotensi
membahayakan dan dapat menyebabkan
kerusakan permanen. Berbagai macam
imunisasi misalnya, Vaksin-vaksin seperti
Hepatitis B, DPT, Polio, MMR, Varicela
(Cacar air) terbukti telah banyak
memakan korban anak-anak Amerika
sendiri, mereka menderita kelainan
syaraf, anak-anak cacat, diabetes,
autis, autoimun dan lain-lain.
Vaksin cacar dipercayai bisa memberikan
imunisasi kepada masyarakat terhadap
cacar. Pada saat vaksin ini diluncurkan,
sebenarnya kasus cacar sudah sedang
menurun. Jepang mewajibkan suntikan
vaksin pada 1872. Pada 1892, ada
165.774 kasus cacar dengan 29.979
berakhir dengan kematian walaupun
adanya program vaksin.
Pemaksaan vaksin cacar, di mana orang
yang menolak bisa diperkarakan secara
hukum, dilakukan di Inggris tahun 1867.
Dalam 4 tahun, 97.5& masyarakat usia 2
sampai 50 tahun telah divaksinasi.
Setahun kemudian Inggris merasakan
epidemik cacar terburuknya dalam
sejarah dengan 44.840 kematian.
Antara 1871 – 1880 kasus cacar naik
dari 28 menjadi 46 per 100.000 orang.
Vaksin cacar tidak berhasil.
Dan masih banyak lagi.
Mengapa vaksin gagal melindungi
terhadap penyakit?
Walene James, pengarang buku
Immunization: the Reality Behind The
Myth, mengatakan respon inflamatori
penuh diperlukan untuk menciptakan
kekebalan nyata.
Sebelum introduksi vaksin cacar dan
gondok, kasus cacar dan gondok yang
menimpa anak-anak adalah kasus tidak
berbahaya. Vaksin “mengecoh” tubuh
sehingga tubuh kita tidak menghasilkan
respon inflamatory terhadap virus yang
diinjeksi.
SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)
naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953
menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di
Olmstead County, Minnesota. Puncak
kejadian SIDS adalah umur 2 – 4 bulan,
waktu di mana vaksin mulai diberikan
kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6
bulan pertama bayi. Persentase kasus
SIDS telah naik dari 2.5 per 1000
menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai
1992. Naikan kematian akibat SIDS
meningkat pada saat hampir semua
penyakit anak-anak menurun karena
perbaikan sanitasi dan kemajuan
medikal kecuali SIDS.
Kasus kematian SIDS meningkat pada
saat jumlah vaksin yang diberikan
kepada balita naik secara meyakinkan
menjadi 36 per anak.
Dr. W. Torch berhasil
mendokumentasikan 12 kasus kematian
pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5
– 19 jam paska imunisasi DPT. Dia
kemudian juga melaporkan 11 kasus
kematian SIDS dan satu yang hampir
mati 24 jam paska injeksi DPT. Saat dia
mempelajari 70 kasus kematian SIDS,
2/3 korban adalah mereka yang baru
divaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3
minggu sebelumnya.
Tidak ada satu kematian pun yang
dihubungkan dengan vaksin. Vaksin
dianggap hal yang mulia dan tidak ada
pemberitaan negatif apapun mengenai
mereka di media utama karena mereka
begitu menguntungkan bagi perusahaan
farmasi.
Ada alasan yang valid untuk percaya
bahwa vaksin bukan saja tak berguna
dalam mencegah penyakit, tetapi
mereka juga kontraproduktif karena
melukai sistem kekebalan yang
meningkatkan resiko kanker, penyakit
kekebalan tubuh, dan SIDS yang
menyebabkan cacat dan kematian.
Lalu adakah imunisasi yang benar
menurut Islam?
Ada! Bahkan Rasulullah sendiri yang
mengajarkan dan
merekomendasikannya.
Imam Bukhari dalam Shahih-nya men-
takhrij hadits dari Asma’ binti Abi Bakr
Dari Asma’ binti Abu Bakr bahwa dirinya
ketika sedang mengandung Abdullah ibn
Zubair di Mekah mengatakan, “Saya
keluar dan aku sempurna hamilku 9
bulan, lalu aku datang ke madinah, aku
turun di Quba’ dan aku melahirkan di
sana, lalu aku pun mendatangi
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam,
maka beliau Shalallaahu alaihi wasalam
menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam
kamarnya, lalu beliau Shalallaahu alaihi
wasalam meminta kurma lalu
mengunyahnya, kemudian beliau
Shalallaahu alaihi wasalam memasukkan
kurma yang sudah lumat itu ke dalam
mulut Abdullah ibn Zubair. Dan itu
adalah makanan yang pertama kali
masuk ke mulutnya melalui Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam, kemudian
beliau men- tahnik-nya, lalu beliau
Shalallaahu alaihi wasalam pun
mendo’akannya dan mendoakan
keberkahan kepadanya.
Dalam shahihain -Shahih Bukhari dan
Muslim- dari Abu Musa Al-Asy’ariy,
“Anakku lahir, lalu aku membawa dan
mendatangi Rasulullah Shalallaahu
alaihi wasalam, lalu beliau Shalallaahu
alaihi wasalam memberinya nama
Ibrahim dan kemudian men- tahnik-nya
dengan kurma.” dalam riwayat Imam
Bukhari ada tambahan: “maka beliau
SAW mendoakan kebaikan dan
memdoakan keberkahan baginya, lalu
menyerahkan kembali kepadaku.”
Seorang kakek men-tahnik cucunya yang
belum lama dilahirkan
Ibu saya pernah mengatakan bahwa bayi
dilahirkan dalam keadaan kekurangan
glukosa. Bahkan apabila tubuhnya
menguning, maka bayi tersebut
dipastikan membutuhkan glukosa dalam
keadaan yang cukup untuknya. Bobot
bayi saat lahir juga mempengaruhi
kandungan glukosa dalam tubuhnya.
Pada kasus bayi prematur yang beratnya
kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat
gulanya sangat kecil sekali, dimana pada
sebagian kasus malah kurang dari 20
mg/100 ml darah. Adapun anak yang
lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg
maka kadar gula dalam darahnya
biasanya di atas 30 mg/100 ml.
Kadar semacam ini berarti (20 atau 30
mg/100 ml darah) merupakan keadaan
bahaya dalam ukuran kadar gula dalam
darah.
Hal ini bisa menyebabkan terjadinya
berbagai penyakit, seperti bayi menolak
untuk menyusui, otot-otot bayi melemas,
aktivitas pernafasan terganggu dan
kulit bayi menjadi kebiruan, kontraksi
atau kejang-kejang.
Terkadang bisa juga menyebabkan
sejumlah penyakit yang berbahaya dan
lama, seperti insomnia, lemah otak,
gangguan syaraf, gangguan
pendengaran, penglihatan, atau
keduanya.
Apabila hal-hal di atas tidak segera
ditanggulangi atau diobati maka bisa
menyebabkan kematian. Padahal obat
untuk itu adalah sangat mudah, yaitu
memberikan zat gula yang berbentuk
glukosa melalui infus, baik lewat mulut,
maupun pembuluh darah.
Mayoritas atau bahkan semua bayi
membutuhkan zat gula dalam bentuk
glukosa seketika setelah lahir, maka
memberikan kurma yang sudah dilumat
bisa menjauhkan sang bayi dari
kekurangan kadar gula yang berlipat-
lipat.
Disunnahkannya tahnik kepada bayi
adalah obat sekaligus tindakan preventif
yang memiliki fungsi penting, dan ini
adalah mukjizat kenabian Muhammad
SAW secara medis dimana sejarah
kemanusiaan tidak pernah mengetahui
hal itu sebelumnya, bahkan kini manusia
tahu bahayanya kekurangan kadar
glukosa dalam darah bayi.
Tahnik sebaiknya dilakukan oleh orang-
orang yang beriman kepada Allah, atau
dapat pula dilakukan ayah atau ibu sang
bayi.
Silahkan liat link video klip cara men-
tahnik bayi: http://www.youtube.com/
watch?v=j8SMV_c636A&feature=share
Penutup
Imunisasi yang selama ini digembar-
gemborkan oleh Zionis dapat berdampak
kepada masalah yang sangat serius bagi
kehidupan penduduk dunia. Mereka
yang bertujuan untuk menjadikan ras
lainnya berada di bawah kekuasaan
mereka dengan berbagai cara. Sudah
cukup adik laki-laki saya yang menjadi
korban konspirasi imunisasi ini. Kini
saatnya kita membuka mata dan
bertanya pada hati nurani kita dengan
berbagai propaganda yang mereka
lakukan.
Bahkan Allah telah menyuruh kita
berhati-hati terdadap berita dari
mereka :
“Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan
teliti agar kamu tidak menimpakan suatu
musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu.”
Qur’an surah Al-Hujuraat (49) : 6
Masih banyak sumber yang belum saya
paparkan di sini. Termasuk bagaimana
teknologi pengetahuan Islam menyingkap
bagaimana setan dapat menjadikan
manusia menjadi jahat melalui makanan
yang haram yang kita konsumsi. Insya
Allah lain waktu saya dapat
menjelaskannya.
Semoga Allah memberkahi dan
melindungi kita semua.
Posted by Unknown on 23.04  No comments »

0 komentar:

Posting Komentar

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search